Feeds:
Posts
Comments

Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak sekali orang. Entah itu kaya secara material, maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua. Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya. Tidak ada satupun manusia waras yang bercita-cita untuk menjadi miskin.

Di tengah arus deras pencaharian seperti ini, dalam renungan-renungan keheningan kadang terpikir, adakah manusia yang tidak pernah miskin? Ya sejak lahir sampai dengan meninggal, ia tidak pernah mengalami kemiskinan. Kalau orang seperti itu ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang-orang yang tidak pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa diri paling miskin di dunia. Sebab, selalu membandingkan dirinya dengan orang yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan.

Ada jawaban yang sederhana dan mendasar mengenai kemiskinan ini, yaitu: “those who are good at enjoying life are not poor”. Dengan kata lain, manusia yang tidak pernah miskin berkaitan dengan seberapa baik dan seberapa bisa ia menikmati dan mensyukuri hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat dalam pada kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam kelompok yang tak pernah miskin.

Bagaimana bisa disebut miskin kalau pada tingkatan penghasilan dan kehidupan manapun ia hanya mengenal kata syukur, syukur dan syukur. Di tahapan-tahapan awal, syukur memang memerlukan pembanding, terutama pembanding yang lebih rendah. Akan tetapi, dalam pemahaman yang lebih mendalam, syukur adalah syukur. Ia tidak lagi memerlukan pembanding.

Beban Hidup

Seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya tentang kehidupannya yang sangat berat. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya dan bermaksud untuk menyerah. Dia merasa capai untuk berjuang dan berjuang. Satu persoalan telah diatasi persoalan yang lain timbul.

Ayahnya, seorang koki, membawanya kedalam dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan kemudian menempatkannya diatas api. Segera air didalam panci-panci itu mendidih. Pada sebuah panci diisinya dengan beberapa wortel, kedalam panci kedua diisinya dengan beberapa biji telur, dan pada panci terakhir diisinya dengan biji-biji kopi. Dibiarkannya beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan dengan tidak sabar menunggu, keheranan dengan yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakan kedalam mangkok. Diambilnya telur-telur dan diletakan kedalam mangkok. Kemudian dituangkannya kopi kedalam cangkir.

Berbalik kepada anaknya, dia bertanya: “Sayangku, apa yang kau lihat?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Dia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya anaknya mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya untuk menghirup kopi. Dia tersenyum saat merasakannya penuh aroma. Dengan rendah hati bertanya “Apa artinya, bapa?”

Sang ayah menjelaskan tiap benda telah merasakan kemalangan yang sama, air yang mendidih, tetapi beraksi berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar. Tetapi setelah dimasak dalam air mendidih, menjadi melembut dan lemah. Telur yang rapuh. Kulit luar yang tipis melindungi cairan didalamnya. Tetapi setelah dimasak didalam air mendidih, cairan didalam menjadi keras. Biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak didalam air mendidih, kopi itu telah merubah air.

“Yang mana engkau?” sang ayah bertanya, “Ketika kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”

Mawar

Mawar merah adalah kecintaannya, nama orangnya sendiri juga “Mawar”. Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis “Be My Valentine like all the years before”.

Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar,dan kartunya selalu tertulis, “Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu.”

Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.

Lalu Mawar memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu disebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam dikursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.

Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, Valentine ini…

Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, seperti hari-hari Valentine sebelumnya. Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba-tiba seakan terkejut melihatnya.

Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu. Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, membuat dia teringat kepada suaminya… dan itu sangat menyakitkan …

Lalu pemilik toko itu menjawabnya, “Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi. Begini Nyonya, bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda. Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua, maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, dia menulis surat special untuk anda, ditulisnya bertahun-tahun yang lalu, dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda. Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, maka surat itu harus saya kirimkan setahun lagi, yaitu tahun ini, surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang, bersama dengan Nyonya saat ini.”

Mawar mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis:

“Dear kekasihku,

aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku.

Aku tahu ini baru setahun… tapi tolong jangan bersedih… aku ingin kau selalu bahagia… Walaupun saat kau hapus air matamu… Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati…

Aku selalu mengasihimu… dan aku tahu akan selalu mengasihimu…

Tapi… istriku, kau harus tetap berjalan… kau punya kehidupan… Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah tapi pasti ada jalan. Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun… dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu… Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, takut kalau engkau sedang pergi… Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu… Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh… meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua bersama lagi.. untuk selamanya…

I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR,… HONEY…”

Sometimes in life, you find a special friend;
Someone who changes your life just by being part of it;
Someone who makes you laugh until you can’t stop;
Someone who makes you believe that there really is good in the world;
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.

This is Forever Friendship …

Kopi Asin

Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.

Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. “Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang”, kata sang gadis dalam hatinya.

Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, “Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya.” Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya, “Kebiasaanmu kok sangat aneh?”.

“Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka bermain-main di laut, di mana aku bisa merasakan laut… asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini”, jawab si laki-laki. “Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana”, lanjutnya dengan mata berlinang.

Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya… Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka.

Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki-laki idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian… pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin !

Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia… Dan, tiap ia membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.

Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya: “Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu— tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu… Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi.”

Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang menanyainya, “Bagaimana rasa kopi asin?”, ia menjawab, “Rasanya begitu manis.”

22-09-2006, 11:52 PM

Mencintai apa adanya

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan! Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh2 saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya : “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan”, katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing2 kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian kita akan membahas merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia”.
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
“Aku mulai duluan ya..,” kata sang istri.
Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman…
Ketika ia mulai membacakan satu per satu hal yang tidak ia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suamnya mulai mengalir…
“Maaf… apakah aku harus berhenti?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan bahagia.
“Sekarang gantian ya.. engkau yang membacakan daftarmu.”

Dengan suara perlahan suaminya berkata, “Aku tidak mencatat sesuatu pun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…”

Sang istri tersentak dan tersentuh olah pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita semua bisa menemukan banyal hal yang indah di sekeliling kita?

Saya percaya bahwa kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk…

Takut…

Kata Takut sdh sangat akrab di telinga kita. Apalagi gw yg memang dunianya juga dikenal dengan takut-menakuti…he..he

Kalau ketemu orang ..entah di mal..atau dimana gitu, mereka selalu nanya : “pak, kok saya sering merasa takut ya kalau di kamar sendirian, sejak di rumah baru?”

atau

“Pak, sejak kematian teman akrab saya, kok saya sering merasa takut dia seakan-akan ada terus di belakang saya..?”

atau

“Pak, besok akan ada RUPS luar biasa…kira-kira saya bakal diganti nggak ya..? saya takut nih..”

atau

“pak, kira2 suami saya ada simpenan wanita lain ngga? saya takut kejadian 2 tahun lalu terulang lagi.”

atau

“Pak, kira -kira tahun depan kontrakan rumah kebayar ngga ya?, takutnya diusir nih”

“Pak, saya lulus ngga ya…?takut nih.

Begitu banyaka rasa takut menyergap kita setiap detik dan saat. gw juga punya rasa takut yang sama..lumrahlah namanya manusia

Tapi pernah suatu ketika ada satu rasa takut..yang benar-benar bikin gw takut..

ketika suatu ketika ada orang yang semasa hidupnya tidak pernah berhenti berbuat baik. sampai suatu ketika

dia meninggal dunia tanpa ada yang tahu. Dia meninggal dalam keadaan tidur…

Sungguh, rupanya perbuatan baik saja tidak mampu menghalangi malaikat pencabut nyawa melakukan tugasnya.

Terkadang gw hanya berpikir..apa masih punya cukup waktu untuk bisa berbuat baik.? bukankah hanya itu yang nantinya

akan menjadi takaran tempat di kehidupan”nanti”….

Rasa takut akan tidak mampu berbuat baik lagi..rasa takut tidak mampu berbuat baik lagi…

Seorang anak umur 5 tahun pernah melontarkan pertanyaan  ke gw :

“Pakde, TUHAN itu cuman satu ya…?

“Iya sayang, kenapa?”

“kalau cuman satu..apa TUHAN bisa lihat semua manusia yang jumlahnya banyak?”

“…….(gw hanya bengong..terdiam..)

Memang dia masih anak 5 tahun…begitu lugu dan polos pemikiran di benaknya…

“Nak, TUHAN memang satu..tapi KuasaNYA Luar biasa. Manusia yang jumlahnya lebih dari 1 triliun ini

mampu DIA lihat kok….”

Apalagi cuman sekadar membeda-bedakan mana yang baik..dan mana yang buruk..TUHAN Ahlinya.

apalagi membedakan mana yang munafik..dan mana yang pura-pura..TUHAN Jagonya.

Apalagi kalau cuman sekadar membedakan mana yang takut..dan mana yang pura-pura takut…

Gw benar-benar takut dengan pertanyaan anak itu tadi…Andaikan TUHAN benar hanya SATU dan mampu melihat SEMUA manusia..

berarti tidak akan SATU PUN manusia yang luput dari PENGLIHATANNYA….mampuslah gw yang belum pernah berbuat

baik….

5 Minute Management course

Lesson 1:
A man is getting into the shower just as his wife is finishing up her
shower, when the doorbell rings. The wife quickly wraps herself in a towel
and runs downstairs. When she opens the door, there stands Bob, the next-
door neighbor.

Before she! says a word, Bob says, “I’ll give you $800 to drop that
towel, “

After thinking for a moment, the woman drops her towel and stands naked in
front of Bob After a few seconds, Bob hands her $800 and leaves.
The woman wraps back up in the towel and goes back upstairs. When she gets
to the bathroom, her husband asks, “Who was that?”

“It was Bob the next door neighbor,” she replies.

“Great,” the husband says, “did he say anything about the $800 he
owes me?”

Moral of the story:
If you share critical information pertaining to credit and risk with your
shareholders in

time, you may be in a position to prevent avoidable exposure.

Lesson 2:
A priest offered a Nun a lift. She got in and crossed her legs, forcing her
gown to reveal a leg. The priest nearly had an accident. After controlling
the car, he stealthily slid his hand up her leg.

The nun said, “Father, remember Psalm 129?” The priest removed his hand.
But, changing gears, he let his hand slide up her leg again.

The nun once again said, “Father, remember Psalm 129?”

The priest apologized “Sorry sister but the flesh is weak.”

Arriving at the convent, the nun sighed heavily and went on her way.

On his arrival at the church, the priest rushed to look up Psalm 129

It said, “Go forth and seek, further up, you will find glory.”

Moral of the story:
If you are not well informed in your job, you might miss a great
opportunity.

Lesson 3 :

A sales rep, an administration clerk, and the manager are walking to lunch
when they find an antique oil lamp. They rub it and a Genie comes out.

The Genie says, “I’ll give each of you just one wish.”

“Me first! Me first!” says the admin clerk. “I want to be in the Bahamas,
driving a speedboat, without a care in the world.”

Puff! She’s gone.

“Me next! Me next!” says the sales rep. “I want to be in Hawaii, relaxing
on the beach with my personal masseuse, an endless supply of Pina Coladas
and the love of my life.”

Puff! He’s gone.

“OK, you’re up,” the Genie says to the manager.

The manager says, “I want those two back in the office after lunch.”

Moral of the story:
Always let your boss have the first say.

Lesson 4
An eagle was sitting on a tree resting, doing nothing. A small rabbit saw
the eagle and asked him, “Can I also sit
like you and do nothing?”

The eagle answered: ” Sure , why not.”

So, the rabbit sat on the ground below the eagle and rested.

All of a sudden, a fox appeared, jumped on the rabbit and ate it.

Moral of the story:
To be sitting and doing nothing, you must be sitting very, very high
up.

Lesson 5
A turkey was chatting with a bull. “I would love to be able to get to the
top of that tree,” sighed the turkey, “but I haven’t got the energy.”

“Well, why don’t you nibble on some of my droppings?” replied the
bull. “They’re packed with nutrients.” !

The turkey pecked at a lump of dung, and found it actually gave him enough
strength to reach the lowest branch of the tree. The next day, after eating
some more dung, he reached the second branch. Finally after a fourth night,
the turkey was proudly perched at the top of the tree.

He was promptly spotted by a
farmer, who shot him out of the! tree.

Moral of the story:
Bull Shit might get you to the top, but it won’t keep you there.

Bahagia

Bagaimana Kita Menemukan Kebahagiaan? Pertanyaan yg sering kita tanyakan , baik terucap ataupun tidak.

Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya.
Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan.
Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia.
Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya.
Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan.
Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia.
Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut.
Tetapi dimana meletakkannya?
Malaikat pertama mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”.
Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju.
Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan di dasar samudera”.
Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya.
Ketiga malaikat langsung sepakat.
Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?
Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai.
Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll.
Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan.

Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan.
Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia.
Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan.
Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita.

Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan.
Kita ingin menemukan kebahagiaan.
Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi.
Dimana mereka meletakkannya?
Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama.
Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat kedua.
Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya???

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah.
Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini. Kita harus rendah hati.
Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita.
Sering kali kita berkata, ach… gue mah belum jadi orang.
Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI dll.
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan.
Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.

menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapainya semua itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke-7 faktor
tersebut menjadi seimbang?

Yang penting disini adalah hikmat.

Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya…, dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?

DI HATI YANG BERSIH…

Bahagia itu satu perasaan yang tidak ada parameter, maksud saya belum tentu orang yg miskin tidak bahagia. Ataupun sebaliknya, belum tentu juga orang yang kaya sudah pasti bahagia…???.

Jadi bahagia adalah perasaan yg hanya bisa dinilai oleh si pelaku dan TUHAN tentunya..

THE GREATEST PAIN IN LIFE

The greatest pain in life
is not to die,
but to be ignored.
To lose the person you love so much
to another who doesn’t care at all.
To have someone you care so about so
much throw a party…
and not tell you about it.
When your favorite person on earth
neglects to invite you to his graduation.
To have people think that you don’t care.

The greatest pain in life,
is not to die,
but to be forgotten.
To be left in the dust after another’s great achievement.
To never get a call from a friend, just saying “hi”.
When you show someone your innermost thoughts
and they laugh in your face.
For friends to always be
too busy to console you
when you need someone to lift your spirits.
When it seems like the only person who cares about you,
is you.

Life is full of pain,
but does it ever get better?
Will people ever care about each other,
and make time for those who are in need?
Each of us has a part to play
in this great show we call life.
Each of us has a duty to mankind
to tell our friends we love them.
If you do not care about your friends
you will not be punished.
You will simply be ignored…
forgotten…
as you have done to others.

This poem was written by a young girl who committed suicide some years ago. Perhaps if the people surrounding her had shown a little more love, and had paid more attention to her, her death could have been prevented. Remember that when going through life, you can’t judge a sad, lonely, or suicidal person by their facial expression. You need to get to know each person you come in contact with, cherish your friendship with them, and show them that you care.

Source: http://www.butlerwebs.com/

KEHILANGAN SEPATU

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak.

Mengapa Anda melemparkan sepatu Anda yang sebelah juga ?” Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup, jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan,tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik.

Ini semua dapat diartikan : supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan.

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya.

From : LOSING IS WINNING-IN SO MANY WAYS

« Newer Posts - Older Posts »