<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Spiritual Journey By Moh.Leo lumanto</title>
	<atom:link href="http://penampakan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penampakan.wordpress.com</link>
	<description>Spiritual adalah salah satu cara untuk merasakan KebesaranNYA</description>
	<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 00:51:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Nurani</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/04/01/nurani/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/04/01/nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 00:51:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian belakangan ini membuat saya mempertanyakan &#8220;arti dari sebuah NURANI&#8221;.
Saat kita melihat betapa macet dan tidak teraturnya lalu lintas di kota jakarta. dan kalau kita jeli ternyata semua itu
bermula dari sikap saling serobot dan tidak mau mengalah. belum lagi perilaku dari pengguna alat transportasi
massal yang juga menyetop kendaraan dgn seenaknya.
Semua berujung pada satu tujuan agar sempat sampai dan cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Belum lagi perilaku berberapa pengemis di lampu merah, yang akan marah  bila tidak diberi. seakan-akan sdh
merupakan kewajiban kita &#8221;yang bermobil&#8221;ini utk memberikan sedekah, mungkin kita dianggap berpunya??.
Saya hanya merenung apakah saya sdh tidak punya nurani lagi saat saya ngotot tidak mau memberi jalan kpd
orang yang dgn seenaknya menyerobot jalan. Apakah nurani saya sudah beku, sehingga tdk lagi memberi sedekah
kepada pengemis yang jelas-jelas masig sangat-sangat sehat dan waras??.
Atau sebaliknya, saat saya memberikan apa yg mereka tuntut,apakah berarti saya manusia yang ber&#8221;nurani&#8221;??
sehingga saya harus memaklumi bahwa saat ada yang menyerobot jalan itu adalah orang yang punya kepentingan
yang jauh lebih &#8221;PENTING&#8221; dari ke&#8221;PENTING&#8221;an saya dan ribuan orang lainnya???
Saya harus memaklumi bahwa sedekah itu tidak hanya milik orang yang lemah dan uzur saja?
Saya harus maklum bahwa di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, sah-sah saja bila orang harus
mengetuk belas kasihan dari orang lain.
Nampaknya saya yang sudah tergerus oleh jaman, sehingga tidak lagi tahu kalau tangan diatas(atau dimana saja&#8230;)lebih mulia(atau malahan
tidak tahu diri&#8230;) daripada tangan dibawah&#8230;????
Saya sudah kehilangan parameter Nurani &#8230;saya kehilangan guidelines ttg nurani&#8230;.
       ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kejadian belakangan ini membuat saya mempertanyakan &#8220;arti dari sebuah NURANI&#8221;.</p>
<p>Saat kita melihat betapa macet dan tidak teraturnya lalu lintas di kota jakarta. dan kalau kita jeli ternyata semua itu</p>
<p>bermula dari sikap saling serobot dan tidak mau mengalah. belum lagi perilaku dari pengguna alat transportasi</p>
<p>massal yang juga menyetop kendaraan dgn seenaknya.</p>
<p>Semua berujung pada satu tujuan agar sempat sampai dan cepat menyelesaikan pekerjaannya.</p>
<p>Belum lagi perilaku berberapa pengemis di lampu merah, yang akan marah  bila tidak diberi. seakan-akan sdh</p>
<p>merupakan kewajiban kita &#8221;yang bermobil&#8221;ini utk memberikan sedekah, mungkin kita dianggap berpunya??.</p>
<p>Saya hanya merenung apakah saya sdh tidak punya nurani lagi saat saya ngotot tidak mau memberi jalan kpd</p>
<p>orang yang dgn seenaknya menyerobot jalan. Apakah nurani saya sudah beku, sehingga tdk lagi memberi sedekah</p>
<p>kepada pengemis yang jelas-jelas masig sangat-sangat sehat dan waras??.</p>
<p>Atau sebaliknya, saat saya memberikan apa yg mereka tuntut,apakah berarti saya manusia yang ber&#8221;nurani&#8221;??</p>
<p>sehingga saya harus memaklumi bahwa saat ada yang menyerobot jalan itu adalah orang yang punya kepentingan</p>
<p>yang jauh lebih &#8221;PENTING&#8221; dari ke&#8221;PENTING&#8221;an saya dan ribuan orang lainnya???</p>
<p>Saya harus memaklumi bahwa sedekah itu tidak hanya milik orang yang lemah dan uzur saja?</p>
<p>Saya harus maklum bahwa di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, sah-sah saja bila orang harus</p>
<p>mengetuk belas kasihan dari orang lain.</p>
<p>Nampaknya saya yang sudah tergerus oleh jaman, sehingga tidak lagi tahu kalau tangan diatas(atau dimana saja&#8230;)lebih mulia(atau malahan</p>
<p>tidak tahu diri&#8230;) daripada tangan dibawah&#8230;????</p>
<p>Saya sudah kehilangan parameter Nurani &#8230;saya kehilangan guidelines ttg nurani&#8230;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=51&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/04/01/nurani/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertapa &#38; Seekor Kepiting</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/pertapa-seekor-kepiting/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/pertapa-seekor-kepiting/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 23:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/pertapa-seekor-kepiting/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.</p>
<p>Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.</p>
<p>Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.</p>
<p>Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.</p>
<p>Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.</p>
<p>Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, &#8220;Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,&#8221; jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.</p>
<p>Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. &#8221; Lihat Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong mahluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?&#8221;</p>
<p>Seketika itu, si pemuda tersadar. &#8220;Terima kasih paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan.&#8221;</p>
<p>Kesimpulan :</p>
<p>Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orang tua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.</p>
<p>Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=50&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/pertapa-seekor-kepiting/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 23:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/</guid>
		<description><![CDATA[
Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.
Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>
Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.</p>
<p>Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.</p>
<p>Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.</p>
<p>Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkimpoian kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.</p>
<p>Dew hadir dalam kehidupanku.</p>
<p>Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.</p>
<p>Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”</p>
<p>Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru<br />
menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitusukses, akan menjadi<br />
sangat menarik bagi para gadis.”</p>
<p>Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor”</p>
<p>Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada<br />
saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun<br />
kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk<br />
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia<br />
pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang<br />
baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.</p>
<p>Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau<br />
aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah<br />
hiburan bagiku.</p>
<p>Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa<br />
yang akan kau lakukan? “</p>
<p>Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia<br />
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku<br />
tidak bisa mbayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu<br />
bahwa aku serius.</p>
<p>Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.<br />
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.</p>
<p>Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.”</p>
<p>Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.</p>
<p>Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,”Ada sesuatu yang harus kukatakan”</p>
<p>Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka<br />
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo<br />
aku terus berpikir.</p>
<p>“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.</p>
<p>Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara<br />
lembut,”kenapa?”</p>
<p>“Aku serius.”</p>
<p>Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia<br />
melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”.</p>
<p>Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu<br />
kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkimpoian kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa<br />
pergi oleh Dew.</p>
<p>Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian<br />
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia<br />
memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..</p>
<p>Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku<br />
sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa<br />
mengembalikan apa yang telah kuucapkan.</p>
<p>Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak<br />
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan<br />
untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan<br />
sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.</p>
<p>Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat<br />
ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku<br />
terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.</p>
<p>Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.</p>
<p>Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.</p>
<p>Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu<br />
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan<br />
kita?”</p>
<p>Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.</p>
<p>Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya,<br />
“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku<br />
pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi<br />
kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”</p>
<p>Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan<br />
indah yang telah berlalu dan berharap perkimpoiannya diakhiri dengan suasana<br />
romantis.</p>
<p>Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh.</p>
<p>Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.</p>
<p>Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami<br />
menepuk punggung kami,”Wah, papa membopong mama, mesra sekali”</p>
<p>Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk,<br />
lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.”</p>
<p>Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia<br />
pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.</p>
<p>Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami<br />
begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku<br />
menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.</p>
<p>Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar,<br />
hati-hati kalau kamu lewat sana.”</p>
<p>Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih<br />
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku<br />
dilenganku.</p>
<p>Bayangan Dew menjadi samar.</p>
<p>Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk.</p>
<p>Perasaan kedekatan terasa semakin erat.</p>
<p>Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.</p>
<p>Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor<br />
bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,”Kelihatannya tidaklah<br />
sulit membopongmu sekarang”</p>
<p>Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya<br />
keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.</p>
<p>Lalu ia melihat,”Semua pakaianku kebesaran”.</p>
<p>Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu<br />
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku<br />
semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.</p>
<p>Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit</p>
<p>Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.</p>
<p>“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”</p>
<p>Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian<br />
yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan<br />
merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku<br />
akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku,<br />
berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya<br />
memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak<br />
pucat dan kurus, membuatku sedih.</p>
<p>Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah<br />
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.</p>
<p>Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari<br />
bahwa kehidupan kita begitu mesra”.</p>
<p>Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut<br />
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.</p>
<p>Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin<br />
bercerai. Aku serius”.</p>
<p>Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.</p>
<p>“Kamu tidak demam”.</p>
<p>Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf<br />
padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan<br />
disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”</p>
<p>Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku<br />
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.</p>
<p>Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati<br />
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.</p>
<p>Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?</p>
<p>Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=49&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/03/24/sebelum-kamu-menceraikanku-gendonglah-aku/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menuai Cinta</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/menuai-cinta/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/menuai-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/menuai-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu - begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.
Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. &#8220;Hutang mereka sudah jatuh tempo,&#8221; kata sang tuan. &#8220;Baik, Tuan,&#8221; sahut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu - begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.</p>
<p>Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. &#8220;Hutang mereka sudah jatuh tempo,&#8221; kata sang tuan. &#8220;Baik, Tuan,&#8221; sahut si bodoh. &#8220;Tetapi nanti uangnya mau diapakan?&#8221; &#8220;Belikan sesuatu yang aku belum punyai,&#8221; jawab sang tuan.</p>
<p>Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.</p>
<p>Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, &#8220;Belikan sesuatu yang belum aku miliki.&#8221; &#8220;Apa, ya?&#8221; tanya si bodoh dalam hati. &#8220;Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?&#8221; Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. &#8220;Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,&#8221; katanya.</p>
<p>Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. &#8220;Benar-benar bodoh,&#8221; omelnya.</p>
<p>Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.</p>
<p>&#8220;Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?&#8221; tanya sang tuan. &#8220;Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,&#8221; jawab si bodoh. &#8220;Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=48&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/menuai-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati yg Indah</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/hati-yg-indah/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/hati-yg-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/hati-yg-indah/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.</p>
<p>Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata &#8220;Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?&#8221;.</p>
<p>Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ?</p>
<p>Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa &#8220;Anda pasti bercanda, pak tua&#8221;, katanya, &#8220;bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya&#8221;, kata pak tua itu,&#8221; hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?&#8221;</p>
<p>Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, lalu merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.</p>
<p>06-10-2006, 01:57 AM</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=47&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/hati-yg-indah/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Menunggu MU&#8230;</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/aku-menunggu-mu/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/aku-menunggu-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/aku-menunggu-mu/</guid>
		<description><![CDATA[Pada minggu ini Conrad, pembuat sepatu, bangun sangat awal, membersihkan tokonya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku dan menyiapkan meja. Dia tidak akan bekerja. Dia sedang menanti teman, seorang tamu khusus : Tuhan sendiri. Kemarin malam Tuhan datang padanya dalam suatu mimpi dan memberitahukan bahwa Dia akan datang bertamu besok.
Jadi Conrad duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada minggu ini Conrad, pembuat sepatu, bangun sangat awal, membersihkan tokonya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku dan menyiapkan meja. Dia tidak akan bekerja. Dia sedang menanti teman, seorang tamu khusus : Tuhan sendiri. Kemarin malam Tuhan datang padanya dalam suatu mimpi dan memberitahukan bahwa Dia akan datang bertamu besok.</p>
<p>Jadi Conrad duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu, hatinya penuh dengan kegembiraan. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu &#8220;Itu DIA,&#8221; pikir Conrad, sambil lari ke arah pintu dan membukanya.</p>
<p>Ternyata itu hanyalah tukang pengantar surat. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kedinginan. Dia menatap sambil menelan ludah ke arah cerek teh di tungku. Conrad mempersilahkan dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku. Kata pengantar surat itu, &#8220;Terima kasih, teh ini enak sekali.&#8221; Kemudian dia menghilang di tengah hawa dingin di luar.</p>
<p>Ketika pengantar surat itu pergi, Conrad membersihkan meja lagi. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menanti kedatangan tamunya. Dia merasa yakin bahwa tamu itu akan datang.</p>
<p>Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki kecil yang sedang menangis. Conrad memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian, Conrad menulis pada secarik kertas dan meletakkannya di atas meja. Tulisan itu berbunyi, &#8220;Tunggulah saya. Saya akan kembali segera.&#8221; Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit dan menggandeng anak kecil itu serta membawanya pulang.</p>
<p>Ternyata perjalanan itu lebih lama dari perkiraannya, bahkan hari sudah mulai agak gelap ketika dia kembali ke rumah. Dia terkejut mendapati seseorang ada di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. tapi lalu hatinya berdebar. Orang itu pastilah Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang.</p>
<p>Namun Conrad mengenali bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas dari flatnya. Perempuan itu tampak sedih dan lelah. Dia memberi tahu bahwa dia tak bisa tidur sama sekali sebab anak laki-lakinya Peter sedang sakit parah. Dia tidak tahu mau berbuat apa. Anak itu diam terbaring di sana, demamnya tinggi, dan dia tidak bisa lagi mengenali ibunya.</p>
<p>Conrad merasa ikut sedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya di sana sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti Peter dengan kain basah. Conrad duduk di tepi tempat tidur anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak.</p>
<p>Ketika dia kembali ke ruangannya, hari sudah larut malam. Conrad sangat lelah dan sungguh kecewa ketika membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang.</p>
<p>Tiba-tiba dia mendengar suara. Ternyata suara Tuhan yang berkata, &#8220;Terima kasih, karena menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih karena menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Conrad, saya berterima kasih karena hari ini saya bisa menjadi tamumu.&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=46&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/aku-menunggu-mu/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Those who are good at enjoying life are not poor&#8230;</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/those-who-are-good-at-enjoying-life-are-not-poor/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/those-who-are-good-at-enjoying-life-are-not-poor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:19:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak sekali orang. Entah itu kaya secara material, maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua. Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menjadi kaya, mungkin itu adalah impian banyak sekali orang. Entah itu kaya secara material, maupun kaya secara spiritual, apa lagi kaya kedua-duanya, ia sudah menjadi magnet dengan daya tarik yang demikian besar. Lebih dari delapan puluh persen energi manusia terkuras untuk meraih ini semua. Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya. Tidak ada satupun manusia waras yang bercita-cita untuk menjadi miskin.</p>
<p>Di tengah arus deras pencaharian seperti ini, dalam renungan-renungan keheningan kadang terpikir, adakah manusia yang tidak pernah miskin? Ya sejak lahir sampai dengan meninggal, ia tidak pernah mengalami kemiskinan. Kalau orang seperti itu ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang-orang yang tidak pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa diri paling miskin di dunia. Sebab, selalu membandingkan dirinya dengan orang yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan.</p>
<p>Ada jawaban yang sederhana dan mendasar mengenai kemiskinan ini, yaitu: &#8220;those who are good at enjoying life are not poor&#8221;. Dengan kata lain, manusia yang tidak pernah miskin berkaitan dengan seberapa baik dan seberapa bisa ia menikmati dan mensyukuri hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri melekat dalam pada kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam kelompok yang tak pernah miskin.</p>
<p>Bagaimana bisa disebut miskin kalau pada tingkatan penghasilan dan kehidupan manapun ia hanya mengenal kata syukur, syukur dan syukur. Di tahapan-tahapan awal, syukur memang memerlukan pembanding, terutama pembanding yang lebih rendah. Akan tetapi, dalam pemahaman yang lebih mendalam, syukur adalah syukur. Ia tidak lagi memerlukan pembanding.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=45&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/those-who-are-good-at-enjoying-life-are-not-poor/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beban Hidup</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/beban-hidup/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/beban-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:16:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/beban-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya tentang kehidupannya yang sangat berat. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya dan bermaksud untuk menyerah. Dia merasa capai untuk berjuang dan berjuang. Satu persoalan telah diatasi persoalan yang lain timbul.
Ayahnya, seorang koki, membawanya kedalam dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan kemudian menempatkannya diatas api. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya tentang kehidupannya yang sangat berat. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya dan bermaksud untuk menyerah. Dia merasa capai untuk berjuang dan berjuang. Satu persoalan telah diatasi persoalan yang lain timbul.</p>
<p>Ayahnya, seorang koki, membawanya kedalam dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan kemudian menempatkannya diatas api. Segera air didalam panci-panci itu mendidih. Pada sebuah panci diisinya dengan beberapa wortel, kedalam panci kedua diisinya dengan beberapa biji telur, dan pada panci terakhir diisinya dengan biji-biji kopi. Dibiarkannya beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.</p>
<p>Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan dengan tidak sabar menunggu, keheranan dengan yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakan kedalam mangkok. Diambilnya telur-telur dan diletakan kedalam mangkok. Kemudian dituangkannya kopi kedalam cangkir.</p>
<p>Berbalik kepada anaknya, dia bertanya: &#8220;Sayangku, apa yang kau lihat?&#8221; &#8220;Wortel, telur, dan kopi,&#8221; jawab anaknya.</p>
<p>Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Dia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya anaknya mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya untuk menghirup kopi. Dia tersenyum saat merasakannya penuh aroma. Dengan rendah hati bertanya &#8220;Apa artinya, bapa?&#8221;</p>
<p>Sang ayah menjelaskan tiap benda telah merasakan kemalangan yang sama, air yang mendidih, tetapi beraksi berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar. Tetapi setelah dimasak dalam air mendidih, menjadi melembut dan lemah. Telur yang rapuh. Kulit luar yang tipis melindungi cairan didalamnya. Tetapi setelah dimasak didalam air mendidih, cairan didalam menjadi keras. Biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak didalam air mendidih, kopi itu telah merubah air.</p>
<p>&#8220;Yang mana engkau?&#8221; sang ayah bertanya, &#8220;Ketika kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=44&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/beban-hidup/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mawar</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/mawar/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/mawar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:12:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/mawar/</guid>
		<description><![CDATA[Mawar merah adalah kecintaannya, nama orangnya sendiri juga &#8220;Mawar&#8221;. Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis &#8220;Be My Valentine like all the years before&#8221;.
Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar,dan kartunya selalu tertulis, &#8220;Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, kasihku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mawar merah adalah kecintaannya, nama orangnya sendiri juga &#8220;Mawar&#8221;. Dan setiap tahun suaminya selalu mengirimkan mawar-mawar itu, diikat dengan pita indah. Pada tahun suaminya meninggal dia mendapat kiriman mawar lagi. Kartunya tertulis &#8220;Be My Valentine like all the years before&#8221;.</p>
<p>Sebelumnya, setiap tahun suaminya mengirimkan mawar,dan kartunya selalu tertulis, &#8220;Aku mencintaimu lebih lagi tahun ini, kasihku selalu bertumbuh untukmu seturut waktu yang berlalu.&#8221;</p>
<p>Dia tahu ini adalah terakhir kali suaminya mengirimkan mawar-mawar itu. Dia tahu suaminya memesan semua itu dengan bayar di muka sebelum hari pengiriman. Suaminya tidak tahu kalau dia akan meninggal. Dia selalu suka melakukan segala sesuatu sebelum waktunya. Sehingga ketika suaminya sangat sibuk sekalipun, segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik.</p>
<p>Lalu Mawar memotong batang mawar-mawar itu dan menempatkan semuanya dalam satu vas bunga yang sangat indah. Dan meletakkan vas cantik itu disebelah potret suaminya tercinta. Kemudian dia akan betah duduk berjam-jam dikursi kesayangan suaminya sambil memandangi potret suaminya dan bunga-bunga mawar itu.</p>
<p>Setahun telah lewat, dan itu adalah saat yang sangat sulit baginya. Dengan kesendiriannya dijalaninya semua. Sampai hari ini, Valentine ini&#8230;</p>
<p>Beberapa saat kemudian, bel pintu rumahnya berbunyi, seperti hari-hari Valentine sebelumnya. Ketika dibukanya, dilihatnya buket mawar di depan pintunya. Dibawanya masuk, dan tiba-tiba seakan terkejut melihatnya.</p>
<p>Kemudian dia langsung menelpon toko bunga itu. Ditanyakannya kenapa ada seseorang yang begitu kejam melakukan semua itu padanya, membuat dia teringat kepada suaminya&#8230; dan itu sangat menyakitkan &#8230;</p>
<p>Lalu pemilik toko itu menjawabnya, &#8220;Saya tahu kalau suami Nyonya telah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Saya tahu anda akan menelpon dan ingin tahu mengapa semua ini terjadi. Begini Nyonya, bunga yang anda terima hari ini sudah di bayar di muka oleh suami anda. Suami anda selalu merencanakannya dulu dan rencana itu tidak akan berubah. Ada standing order di file saya, dan dia telah membayar semua, maka anda akan menerima bunga-bunga itu setiap tahun. Ada lagi yang harus anda ketahui, dia menulis surat special untuk anda, ditulisnya bertahun-tahun yang lalu, dimana harus saya kirimkan kepada anda satu tahun kemudian jika dia tidak muncul lagi di sini memesan bunga mawar untuk anda. Lalu, tahun kemarin, saya tidak temukan dia di sini, maka surat itu harus saya kirimkan setahun lagi, yaitu tahun ini, surat yang ada bersama dengan bunga itu sekarang, bersama dengan Nyonya saat ini.&#8221;</p>
<p>Mawar mengucapkan terima kasih dan menutup telepon, dia langsung menuju ke buket bunga mawar itu, sedangkan air matanya terus menetes. Dengan tangan gemetar diambilnya surat itu Di dalam surat itu dilihatnya tulisan tangan suaminya menulis:</p>
<p>&#8220;Dear kekasihku,</p>
<p>aku tahu ini sudah setahun semenjak aku pergi. Aku harap tidak sulit bagimu untuk menghadapi semua ini. Kau tahu, semua cinta yang pernah kita jalani membuat segalanya indah bagiku, kau adalah istri yang sempurna bagiku. Kau juga adalah seorang teman dan kekasihku yang memberikan semua kebutuhanku.</p>
<p>Aku tahu ini baru setahun&#8230; tapi tolong jangan bersedih&#8230; aku ingin kau selalu bahagia&#8230; Walaupun saat kau hapus air matamu&#8230; Itulah mengapa mawar-mawar itu akan selalu dikirimkan kepadamu. Ketika kau terima mawar itu, ingatlah semua kebahagiaan kita, dan betapa kita begitu diberkati&#8230;</p>
<p>Aku selalu mengasihimu&#8230; dan aku tahu akan selalu mengasihimu&#8230;</p>
<p>Tapi&#8230; istriku, kau harus tetap berjalan&#8230; kau punya kehidupan&#8230; Cobalah untuk mencari kebahagiaan untuk dirimu. Aku tahu tidak akan mudah tapi pasti ada jalan. Bunga mawar itu akan selalu datang setiap tahun&#8230; dan hanya akan berhenti ketika pintu rumahmu tidak ada yang menjawab dan pengantar bunga berhenti mengetuk pintu rumahmu&#8230; Tapi kemudian dia akan datang 5 kali hari itu, takut kalau engkau sedang pergi&#8230; Tapi jika pada kedatangannya yang terakhir dia tetap tidak menemukanmu&#8230; Dia akan meletakkan bunga itu ke tempat yang ku suruh&#8230; meletakkan bunga-bunga mawar itu ditempat dimana kita berdua bersama lagi.. untuk selamanya&#8230;</p>
<p>I LOVE YOU MORE THAN LAST YEAR,&#8230; HONEY&#8230;&#8221;</p>
<p>Sometimes in life, you find a special friend;<br />
Someone who changes your life just by being part of it;<br />
Someone who makes you laugh until you can&#8217;t stop;<br />
Someone who makes you believe that there really is good in the world;<br />
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.</p>
<p>This is Forever Friendship &#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=43&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/mawar/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kopi Asin</title>
		<link>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/kopi-asin/</link>
		<comments>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/kopi-asin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 23:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/kopi-asin/</guid>
		<description><![CDATA[Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.
Mereka berdua duduk di sebuah kedai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. Saat pesta telah usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya.</p>
<p>Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. &#8220;Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang&#8221;, kata sang gadis dalam hatinya.</p>
<p>Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, &#8220;Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya.&#8221; Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.</p>
<p>Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya, &#8220;Kebiasaanmu kok sangat aneh?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku sangat suka bermain-main di laut, di mana aku bisa merasakan laut&#8230; asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini&#8221;, jawab si laki-laki. &#8220;Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal di sana&#8221;, lanjutnya dengan mata berlinang.</p>
<p>Sang gadis begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya&#8230; Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah cinta mereka.</p>
<p>Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyadari bahwa ia adalah laki-laki idaman baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian&#8230; pokoknya ia adalah pria baik yang hampir saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin !</p>
<p>Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka hidup bahagia&#8230; Dan, tiap ia membuatkan suaminya secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya.</p>
<p>Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Ia meninggalkan sepucuk surat bagi istrinya: &#8220;Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu&#8212; tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu&#8230; Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi.&#8221;</p>
<p>Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu hari seseorang menanyainya, &#8220;Bagaimana rasa kopi asin?&#8221;, ia menjawab, &#8220;Rasanya begitu manis.&#8221;</p>
<p>22-09-2006, 11:52 PM</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penampakan.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penampakan.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penampakan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penampakan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penampakan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penampakan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penampakan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penampakan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penampakan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penampakan.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penampakan.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penampakan.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penampakan.wordpress.com&blog=965628&post=42&subd=penampakan&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penampakan.wordpress.com/2008/02/22/kopi-asin/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/penampakan-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>