Dari awal dunia ini diciptakan, sosok seorang Pria selalu saja menjadi dominan. Dimulai dari cerita Hawa yang menggoda anak adam dengan apelnya, sampai cerita bahwa seorang wanita pun diciptakan dari tulang rusuk Pria…Belum lagi lagu “…wanita dijajah Pria sejak dulu…”.
Gileee beneerrrr….Pria sudah menjelma menjadi sosok yang karismatik dan sangat perkasa. Tidak ada satu pun pekerjaan di atas muka bumi ini yang tidak dapat dikerjakan olehnya. Cuma hamil dan melahirkan saja yang belum…
Nah…saat kita berbicara tentang kehamilan dan melahirkan, kita berbicara tentang awal kehidupan yang hakiki…kehidupan yang ter evolusi setiap waktu. Disitu awal dari embrio manusia baru yang bisa saja berkelamin Pria atau pun Wanita.
Dan semua hal itu HANYA bisa dilakukan oleh seorang wanita saja.
Súdalah…by the way..busway…kita tidak sedang membahas masalah kehamilan kok. Gua cuman ingin ngomong soal sosok Pria yang dibalik keperkasaannya dan sifat dominannya itu, ternyata menyimpan segudang wish list yang bersifat kekanak-kanakan.
Dari pengen punya koleksi figures heroes atau pun masih tertarik main playstation dan hal-hal lain yang pantasnya dilakukan oleh seorang anak kecil.
“A Boy that traps in a man’s Body. Gua sering banget denger istilah itu. Dan pernah suatu ketika nyokap gue pesen ke bini gue yang intinya mengatakan bahwa laki-laki itu semuanya seperti anak kecil.
Saat mendengar omongan nyokap itu, gua belagak sedikit introspeksi diri, apakah gua seperti yang diomongin nyokap..?????
Ngga butuh waktu lama buat gua untuk me”nemu”kan sisi kekanak-kanakan gua…heemmm…bener juga neh kayaknya.
Sebenarnya hal-hal itu wajar-wajar saja gua rasa, saat seorang Pria dewasa masih memiliki dan menyimpan A Childish Side dalam dirinya. Bukankah katanya Pria lebih mengedepankan rasio dibanding wanita yang selalu memakai perasaannya.
Mungkin saja dengan rasio inilah para Pria dewasa ini merasa bahwa saat dia masih bisa dan mampu untuk kembali mengulang masa-masa kanak-kanak yang Indah, maka dia akan melakukan hal itu.
Sesungguhnya jujur saja….merupakan hal yang sangat menarik saat gua bisa melihat patung figure heroes yang sewaktu kecil sangat gua kagumi.
Apalagi belakangan ini banyak film-film layar lebar yang temanya kembali ke kenangan masa kecil. Entah itu Superman, Batman dan teman-temannya.
Mungkin saja hal-hal tadi terjadi karena sosok Pria atau Laki-laki sesuai dengan kodratnya, selalu di anggap A Leader. Kepala rumah tangga harus seorang Pria. Para Bos dan atasan di kantor…kebanyakan juga Pria. Pekerjaan kasar dan berat..selalu kebanyakan dikerjakan oleh Pria. Mencari nafkah utnuk keluarga..sudah kewajiban Pria.
Belum lagi dalam berberapa kultur budaya pun, Memiliki anak Pria sering kali menjadi Human Asset yang lebih bernilai.
Dari semua paparan ini, rupanya sosok Pria secara sadar atau tidak sudah memiliki satu privacy dan moral obligation akan tanggung jawab kehidupan.
Bukan tidak mungkin tidak semua mampu menjalani hal itu dengan baik. Berangkat dari pemikiran bahwa tidak ada satu pun manusia yang dianugerahi kesempurnaan tentunya gua dan anda semua juga bukanlah orang yang sempurna dalam menjalani proses kehidupan ini.
Hanya saja kita para Pria terkadang sulit sekali mengkekang ego yang memang sudah terpupuk sejak dini. Sehingga kerap kali Kita selalu ingin menang dan di”menang”kan dalam semua aspek kehidupan.
Lelah juga ternyata menjadi seorang Pria, dengan segala tanggung jawab dan semua kebuntuan akan masalah yang selalu ditimpakan ke para Pria. Dari soal Pria berselingkuh..sudah jelaslah Prianya yang salah, tanpa orang tidak pernah tahu bahwa tak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Atau saat tidak mampu mencukupi nafkah lahir keluarga, tentulah Pria yang akan dipersalahkan karena kurang keras mebanting tulang nya untuk keluarga.
Apakah karena semua hal itu, kemudian dalam diri setiap Pria menyimpan rasa dan memori masa kecilnya atau hal-hal yang mengingatkan dia hanya akan kesenangan semata. Bisa saja hal itu mewujud dalam bentuk having fun with his social community dengan jalan clubbing dan menjadi anggota P3L..Party ampe Pulang Pagi lagi.
Atau mencari sesuatu kenangan yang membahagiakan lewat memorilibia atau hal-hal yang pernah dilakukan semasa kecil. Semisal mengkoleksi benda-benda yang dulu pernah menjadi impiannya semasa kecil, dll.
Hal-hal ini tadi rupanya sudah menjadi bagian dari pelampiasan akan beban moral yang sudah keburu harus disandang karena menjadi Pria. Bukankah sejak kesetaraan gender di kumandangkan dimana-mana, tetap saja mencari nafkah mutlak merupakan kerjaan Para Pria??. Bukankah tetap saja Para Pria akan berusaha menguasai semua pekerjaan wanita, sampai-sampai niat transexual pun kerap dilakukan kebanyakan oleh Pria.
Hanya saja…Tetap saja…Ada satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Pria, yaitu melakukan proses awal dari satu kehidupan…Hamil dan Melahirkan…!!!
Secara spiritual gua melihat justru disinilah kunci dari senses of morality. Dimana secara moral seorang Pria tidak akan pernah sukses menjadi “ibu” buat anak-anaknya. Mengapa peran single parents lebih gape dimainkan oleh seorang wanita??
Seorang Pria tidak pernah sempurna menjadi sosok pemerhati, Pria lebih cenderung menjadi sosok yang butuh di perhati kan.
Ternyata dibalik sosok yang semula dikira dominan dan karismatik itu, tetap ada satu nature needed yang hakiki, yaitu kebutuhan akan perasaan terlindungi. Dimana lewat perilaku itulah seorang Pria akan mencoba menumpahkan semua kekurangan dan kelelahan moral yang dia rasakan sebagai seorang Pria dewasa.
Boys is still a Boy….ungkapan yang mengena saat seorang Pria seakan kehilangan jati dirinya dan saat itu dia merasa bahwa masa kecilnyalah masa yang tidak pernah membuatnya terluka.
Anda mungkin pernah nonton film THE KIDS yang diperankan oleh Bruce Willis. Gua berberapa kali sudah nonton film itu. Ada Satu hal yang membuat gua kena banget..Tokoh yang diperankan oleh Bruce ternyata tidak mampu meraih semua impian kecilnya, sehingga muncul seorang anak kecil yang belakangan ternyata adalah Imagining Friend dari Bruce, yang memngingatkan dia akan impian masa kecilnya.
Betapa banyak dari kita kaum Pria yang sudah jauh melenceng dari mimpi kecil kita dulu.
Sehingga ketika ada satu kesempatan dan waktu untuk sedikit bernostalgia dengan impian itu, tentu tidak akan terlewatkan begitu saja. Jadilah kemudian sosok permainan dan barang-barang yang mengingatkan kita akan impian masa kecil itu menjadi sesuatu yang membahagiakan.
Paling tidak hal itu bisa sedikit meredam kekesalan akan persoalan hidup yang tak kunjung usai. Paling tidak hal-hal itu jauh lebih baik daripada mimpi kecil menjadi pengisap shabu-shabu misalnya….
Wajar sajalah kalau seketika seseorang merasa lelah akan rutinitasnya..merasa jemu dengan aktifitasnya atau malah merasa bosan dengan kehidupannya. Bukankah apapun yang ada disekeliling kita tidak ada yang abadi?.
Wajar juga bilamana ditengah kejemuan itu seseorang Pria dewasa ingin sesaat kembali ke impian masa kecilnya. Paling tidak untuk sesaat itu dia bisa berdamai dengan waktu tang biasanya menghantuinya lewat sosok Jin yang disebut dead line kerjaan kantor, dll.
Yah itung-itung punyalah sarana untuk sekadar mengusir rasa stress dengan memandangi koleksi mobil-mobil miniature yang terpajang rapi di lemari kaca. Daripada mengkoleksi nomer handphone wanita-wanita yang mungkin saja Binor.
Pria dewasa tetaplah Pria yang harus mau menerima beban tanggung jawab hidup yang seakan sudah di takdir kan untuk dia angkat. Hanya saja Pria dewasa ini masih butuh juga sarana untuk sejenak rehat dan lepas dari kepenatan hidup nya dan salah satu sarana pelepasan nya lewat sifat kekanak-kanakan yang masih bermukim di dalam dirinya.
Hanya saja hal-hal itu tentunya memerlukan satu pemahaman dari pasangan hidup kita. Bahwa hampir semua Pria masih suka berlaku seperti kanak-kanak..itu iya. Tapi tidak kemudian hal ini bisa menjadi satu pelarian dari satu persoalan hidup yang harus diselesaikan.
Berlakulah secara wajar dan adil dalam menerapkan keinginan masa kecil tadi. Biar bagaimana pun, Kita sudah terlahir dan menjelma sebagai seorang Pria dewasa yang di pundak kita sudah terletak satu beban dan tanggung jawab kehidupan yang tidak mungkin kita pungkiri.
Memang kita tidak mampu seorang Ibu, tapi paling tidak kita masih bisa menjadi seorang Imagining Mother seperti peran Robin William dalam film “Mrs Doubtfire”. Setidaknya kita bisa menjadi orang yang tidak hanya butuh di “perhati”kan saja, tapi mampu memper”hati”kan juga.
Walau bagaimana pun cerita ROMEO & JULIET tetap memerlukan peran seorang Pria.
Paling tidak Pria masih bisa melakukan satu hal lagi yang lebih indah dan cantik, yaitu mencintai dan setia. Sehingga sosok kanak-kanak yang ada pada diri seorang Pria akan menjadi seorang kanak-kanak yang innocent dan Jujur setidaknya untuk dirinya sendiri.
Finally…A musician must make a music..an artist must paint, a poet must write, If He is to be ultimately at peace with himself. What A man can be..He must be..
By Leo Lumanto – Spiritual Conselour / telah dimuat di majalah COSMOPOLITAN edisi 2008