Kata yang begitu lekat dikeseharian kita. Kata yang sedari kita balita sudah mulai diajarkan. Kata yang dulu sangat populer untuk diucapkan mewakili ungkapan akan rasa yang tak ternilai.
Hanya saja sekarang kata “terimakasih” sudah semakin kehilangan makna sesungguhnya. Saya berberapa hari lalu juga mendapatkan ucapan terimakasih dari seorang penjual majalah di emperan. Sementara seorang teman baru saja mendapat ucapan terimakasih dari seorang Polantas karena telah memberinya ‘uang rokok’.
atau dulu tahun 2006 saya pernah pergi hunting foto dengan Mas Darwis Triadi ke jawa tengah. Di perjalanan kami berhenti motret di candi ratu boko. Seorang ibu-ibu tua yang sedang memanggul kendi air menjadi sasaran bidikan kami berdua. Setelah selesai ‘melahap’ sang Ibu dengan kamera. Kami memutuskan untuk memberinya sedikit uang saja. Kami dekati sang ibu dan mengangsurkan dua lembar uang 50.000 an. Sang Ibu tertegun dan mengatakan ‘ini untuk apa?’ kami menjawab ‘uang ini untuk ibu kok, ambil saja’. Sang Ibu tertegun dan kembali menatap ke arah tangan dimana uang itu berada. Dengan perlahan tangan keriputnya beringsut mengambil satu lembar uang 50.000an tadi….yah..hanya satu lembar saja dari 2 lembar yang ada…
Dengan lirih sang ibu berkata ‘ maturnuwun….keakehan(kebanyakan-bhs jawa)….Ucapan maturnuwun nya sang Ibu sangat menyengat di telinga saya. Luar biasa masih ada kalimat yang sudah sangat jarang saya jumpai di kota-kota besar, kalimat yang jarang sekali diucapkan dengan tulus. Kalimat yang sekarang lebih berkonotasi basa basi semata. Sang Ibu telah ‘menampar’ saya dengan ucapan nya. Terimakasih….terimakasih untuk Sang Ibu yang tak bernama…