Suatu ketika di satu sudut kafe di pojokan trotoar jalan, Nampak sedang duduk seorang eksekutif muda. Dari penampilannya ketahuan pastilah dia tipikal eksekutif yang berhasil. Laptop keluaran terbaru terpampang di hadapannya. Dengan cekatan jari-jari tangannya yang dibalut arloji mahal buatan swiss, memainkan mousenya.
Sangat serius dia dengan aktivitasnya itu. Seketika datang menghampiri sosok anak kecil laki-laki umur sekitar 8 tahunan. Dengan pakaian dekil en the kumel, sembari menenteng rantang besar terbuat dari aluminium. Hampir saja badannya yang kurus kecil itu tertutup oleh rantang yang besar dan nampak berat itu.
’ Om, kuenya om….’ : kata anak itu menawarkan kuenya. Sembari tangannya mengulurkan tangan yang mengenggam sepotong kue berwarna putih dengan aksen coklat di tengahnya.
Sang eksekutif yang merasa terusik ketenanganya hanya melambaikan tangan dan mengatakan ’tidak…’ tanpa menoleh sedikit pun ke arah anak itu.
Anak itu tak bergeming dan kemudian ’ Om..kuenya om, masih anget nih…’ :sahutnya.
Nampaknya lambaian tangan tadi itu tak bermakna sebagai satu pertanda penolakan untuknya. Malah itu di anggap sebagai satu awal bahwa kehadirannya di respon dengan baik.
Kembali Sang eksekutif kita melambaikan tangannya ke kiri kanan secara cepat dan kali ini meluncur serentetan kata..’tidak..tidak..tidak..nanti..nanti..sana..sana..pergi !!’.
Kali ini si anak patuh, dia pun menjauh dan berjalan ke pojokan jalan. Dia berteduh di bawah pohon rindang sembari menghapus peluh yang mengalir di dahinya dengan ujung kain bajunya. Mulutnya dengan sigap menawarkan kue ke setiap orang yang lewat.
Tak berberapa lama nampak Sang eksekutif bergegas akan meninggalkan mejanya. Dia kemudian melintas di depan si anak penjual kue. Kembali si anak bagaikan serigala menemukan mangsanya, langsung berdiri dan setengah mengejar Sang eksekutif muda tadi.
’ Om..om..kuenya om..: setengah berteriak ia menawarkan dagangannya, ditingkahi hiruk pikuk orang yang melintas di sore itu.
Sang eksekutif yang sedang asyik memencet-mencet tuts handphonenya, menoleh dan kali ini dia berhenti dan tersenyum simpul sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Kali ini gelengan itu tidak berupa penolakan lagi, tapi lebih kepada kekagumannya akan gigihnya si anak menawarkan kue itu. Hal ini yang membuat sang eksekutif langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan berberapa lembar uang.
Melihat itu dengan sigap si anak membuka rantang kuenya dan bertanya : ’ Mau berapa..Om..?’.
’ enggak ….enggak..saya ngga beli.’ : kata Sang eksekutif. ’ ini..kamu ambil aja untuk kamu’ : lanjut Sang eksekutif sembari tangannya mengulurkan uang sepuluh ribuan tiga lembar.
Alih-alih mengulurkan tangan untuk mengambil, malah anak itu tertegun menatap uang itu. Dan sesaat dari bibir mungilnya meluncur kata :’ tidak om…makasih’. Sang eksekutif terperanjat mendengar kata itu. Dalam hidupnya hanya berberapa kali dia mendengar kata itu sebagai penolakan atas tawaran dan pemberiannya. Di posisi jabatannya di kantor, begitu jarang dia mendapat penolakan seperti itu. Semua akan setuju dan menyambut baik apa pun yang dia bicarakan.
Dengan rasa ingin tahu sang eksekutif melanjutkan kalimatnya : ’ ngga apa-apa kok..ambil aja..ini untuk kamu’. Lagi-lagi si anak mengelengkan kepalanya. Dia kembali mengatakan :’tidak om..’ kali ini lebih tegas.
’ kenapa ngga mau..ada apa..kamu ngga mau duit?’ : sahut sang eksekutif.
’ bukan om..bukan ngga mau. Kata ibu saya kita ngga boleh minta-minta..kalo mau uang
Kita musti kerja dulu..’ : jawab si anak dengan lugunya.
Kali ini jawaban si anak membuat sang eksekutif tertegun. Jawaban singkat yang seketika membuat debar jantungnya seakan berhenti sepersekian detik. Kenaaa deeeehhh gueee….itu pikirnya. Seakan-akan si anak bisa membaca bahwa di keseharian sang eksekutif betapa seringnya dia mendapatkan uang tanpa harus bekerja. Kedudukannya sebagai salah satu penentu di salah satu perusahaan swasta terbesar di negeri ini, menjadikan ia begitu diminati banyak orang. Orang yang selalu rela antri untuk bertemu dengannya. Dan rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengantarkan secarik kertas tanda bukti transfer ke rekeningnya.
Jawaban si anak terasa sangat ironis di tengah negeri ini sedang berjuan untuk memulihkan rasa harga diri. Seakan – akan para penguasa negeri sangat peka dan perasa akan penderitaan rakyatnya. Sehingga dicanangkanlah program Be El Te…Bantuan langsung Pakai. Ironisnya lagi saat pendapatan keluarga miskin itu ditambah dengan sejumlah fulus, disisi lain BBM dinaikan kembali. Walhasil tak hanya BBM yang naik, konco-konconya BBM pun ikut-ikutan naik juga. Terus apa bedanya saat pendapatan keluarga miskin tadi ditambah, kemudian ternyata barang-barang kebutuhan mereka pun harganya ikut tambah??
Apakah memang Be El Te merupakan solusi moncer untuk mengkikis kemiskinan di negeri ini? Ataukah ini malah hanya akan melahirkan pengemis-pengemis baru yang lupa bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah…?
Lalu akankah generasi ke depan kita akan bermental tahu diri dan jujur seperti si anak penjual kue? Atau malah bersikap persis sang eksekutif yang sempat merasa sangat bangga dengan keberhasilannya?
Alangkah indahnya andaikan benih keberhasilan sang eksekutif kemudian dipupuk dengan mental tahu dirinya si anak penjual kue.
Alangkah indahnya andaikan solusi kemiskinan itu dimulai dari memupuk mental untuk mau bekerja keras serta jujur dalam menyikapi hidup. Niscaya Tuhan pun pastilah berkenan untuk membuka jalan. Bukankah rejeki itu ada ditanganNYA??. Andaikan semua telah berjalan dan semua orang yang mengisi negeri ini mau jujur terhadap apapun perannya di dunia ini dan percaya akan nikmatNYA, mungkin Be El te tidak kita perlukan lagi dan Be El Te tidak perlu menjadi jargon olok-olok menjadi Bantuan langsung Terbuang…