Kejadian belakangan ini membuat saya mempertanyakan “arti dari sebuah NURANI”.
Saat kita melihat betapa macet dan tidak teraturnya lalu lintas di kota jakarta. dan kalau kita jeli ternyata semua itu
bermula dari sikap saling serobot dan tidak mau mengalah. belum lagi perilaku dari pengguna alat transportasi
massal yang juga menyetop kendaraan dgn seenaknya.
Semua berujung pada satu tujuan agar sempat sampai dan cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Belum lagi perilaku berberapa pengemis di lampu merah, yang akan marah bila tidak diberi. seakan-akan sdh
merupakan kewajiban kita ”yang bermobil”ini utk memberikan sedekah, mungkin kita dianggap berpunya??.
Saya hanya merenung apakah saya sdh tidak punya nurani lagi saat saya ngotot tidak mau memberi jalan kpd
orang yang dgn seenaknya menyerobot jalan. Apakah nurani saya sudah beku, sehingga tdk lagi memberi sedekah
kepada pengemis yang jelas-jelas masig sangat-sangat sehat dan waras??.
Atau sebaliknya, saat saya memberikan apa yg mereka tuntut,apakah berarti saya manusia yang ber”nurani”??
sehingga saya harus memaklumi bahwa saat ada yang menyerobot jalan itu adalah orang yang punya kepentingan
yang jauh lebih ”PENTING” dari ke”PENTING”an saya dan ribuan orang lainnya???
Saya harus memaklumi bahwa sedekah itu tidak hanya milik orang yang lemah dan uzur saja?
Saya harus maklum bahwa di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, sah-sah saja bila orang harus
mengetuk belas kasihan dari orang lain.
Nampaknya saya yang sudah tergerus oleh jaman, sehingga tidak lagi tahu kalau tangan diatas(atau dimana saja…)lebih mulia(atau malahan
tidak tahu diri…) daripada tangan dibawah…????
Saya sudah kehilangan parameter Nurani …saya kehilangan guidelines ttg nurani….
Jadi… apakah arti NURANI? apakah memang ada parameternya? guidelinesnya juga adakah? bisa dilihat di mana?
Cool Site….will visit again one day…..
Wah, ini pa leo yang suka ada di tv itu ya.. Pa Leo, ini artikelnya keputus2 jd saya sulit baca juga.
kegundahan yg sama kerap menghantui saya, terkadang meski hanya sedikit dapat memberi. Namun sering pula tak berhati, memalingkan muka seakan mereka tiada. duhai baginda rasul.. kemana hatiku tak lagi menatap ajaranmu.
Pak Leo, erosi nurani disebabkan bangsa ini kehilangan jatidiri. Kalau saja kearifan lokal tidak tergerus oleh budaya luar, yang membuat bangsa ini kehilangan percaya diri, kalau saja setiap diri memahami makna KESADARAN SEJATI yang tak terikat oleh sistem, upacara ritual yang kering dunia bisa harmonis. Tunggu dengan sabar 2013 semua ini akan berubah. Kita akan memahami makna kearifan feminisme = IBU ALAM, manusia tak akan terkotak0kotak lagi seperti sekarang. Ada hubungan apa keberadaan candi sukuh dengan bangunan di maya Sana? Mengapa kehancuran Maya sama dengan kehancuran budaya lokal Jawa? Ooopppss, jadi banyak mendongeng….
Assalamu’alaikum Wr. WB. Salam kenal mas leo, blog yang bagus. Tulisan anda semuanya bagus dan begitu dalam maknanya serta penuh romantisme kehidupan. Semoga Allah SWT mempertemukan kita, Salam Hormat Bambang Trimulyo, http://konsulalternatif.wordpress.com