header image
 

Nurani

Kejadian belakangan ini membuat saya mempertanyakan “arti dari sebuah NURANI”.

Saat kita melihat betapa macet dan tidak teraturnya lalu lintas di kota jakarta. dan kalau kita jeli ternyata semua itu

bermula dari sikap saling serobot dan tidak mau mengalah. belum lagi perilaku dari pengguna alat transportasi

massal yang juga menyetop kendaraan dgn seenaknya.

Semua berujung pada satu tujuan agar sempat sampai dan cepat menyelesaikan pekerjaannya.

Belum lagi perilaku berberapa pengemis di lampu merah, yang akan marah  bila tidak diberi. seakan-akan sdh

merupakan kewajiban kita ”yang bermobil”ini utk memberikan sedekah, mungkin kita dianggap berpunya??.

Saya hanya merenung apakah saya sdh tidak punya nurani lagi saat saya ngotot tidak mau memberi jalan kpd

orang yang dgn seenaknya menyerobot jalan. Apakah nurani saya sudah beku, sehingga tdk lagi memberi sedekah

kepada pengemis yang jelas-jelas masig sangat-sangat sehat dan waras??.

Atau sebaliknya, saat saya memberikan apa yg mereka tuntut,apakah berarti saya manusia yang ber”nurani”??

sehingga saya harus memaklumi bahwa saat ada yang menyerobot jalan itu adalah orang yang punya kepentingan

yang jauh lebih ”PENTING” dari ke”PENTING”an saya dan ribuan orang lainnya???

Saya harus memaklumi bahwa sedekah itu tidak hanya milik orang yang lemah dan uzur saja?

Saya harus maklum bahwa di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, sah-sah saja bila orang harus

mengetuk belas kasihan dari orang lain.

Nampaknya saya yang sudah tergerus oleh jaman, sehingga tidak lagi tahu kalau tangan diatas(atau dimana saja…)lebih mulia(atau malahan

tidak tahu diri…) daripada tangan dibawah…????

Saya sudah kehilangan parameter Nurani …saya kehilangan guidelines ttg nurani….

~ by Leo on April 1, 2008.

3 Responses to “Nurani”

  1. Jadi… apakah arti NURANI? apakah memang ada parameternya? guidelinesnya juga adakah? bisa dilihat di mana?

    Cool Site….will visit again one day…..

  2. Wah, ini pa leo yang suka ada di tv itu ya.. Pa Leo, ini artikelnya keputus2 jd saya sulit baca juga.

  3. kegundahan yg sama kerap menghantui saya, terkadang meski hanya sedikit dapat memberi. Namun sering pula tak berhati, memalingkan muka seakan mereka tiada. duhai baginda rasul.. kemana hatiku tak lagi menatap ajaranmu.

Leave a Reply