Feeds:
Posts
Comments

Bangkit

Kalimat yang begitu akrab ditelinga kita. Bangkit..satu kalimat yang akan diucapkan saat

dalam satu keadaan seseorang terjatuh. Makna kata bangkit nampaknya hanya bisa disetarakan dengan satu makhluk hidup. Bangkit dapat diartikan bangun dari jatuh, berdiri kembali ataupun maju lagi dari satu kejatuhan.

Atau bangkit lebih mengingatkan saya akan satu kue kering khas daerah Sumatra, yah namanya Kue bangkit, saat saya tanya kenapa dinamakan Kue Bangkit, rupanya karena setelah didiamkan selama 1 hari 1 malam, adonan kue tadi akan mengembang dan membesar, dia akan bangkit. Maka nama bangkit itulah yang kemudian melekat di kue itu.

Sekarang Bangsa besar ini pun sedang merayakan Bangkit, Kebangkitan Nasional. Tidak tanggung-tanggung ini yang ke 100 tahun. Yah sudah 1 abad rupanya Bangsa ini bangkit atau baru merasa bangkit…???

Sayangnya kata bangkit disini bukanlah adonan kue yang renyah dan terasa lumer di mulut, tapi ini masalah bangkit yang lebih ke masalah rasa nasionalisme. Rasa kebangsaan yang patriotik.

Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari bencana, bangkit dari rasa malu, bangkit dari persoalan yang terus membelenggu negeri ini. Tak pupus harap dan doa dipanjatkan setiap waktu. Begitu banyak sudah mujahadah doa dikumandangkan dan diselingi tetesan airmata dan rasa haru.

Betapa banyak sudah rumah yang terkoyak bencana, berapa banyak tubuh yang tercerai berai oleh musibah. Tak terhitung tanah yang sudah diuruk untuk pemakaman. Sudah tak terhitung harta benda yang hilang karena amarah alam.

Sebagian penduduk negeri ini sekarang tengah galau, mereka tidak berani lagi bermimpi akan hari esok, sementara hari ini saja belum tentu mampu mereka lalui. Tidak ada lagi harap ditengah semua bahan pokok mulai menyumbat nafas, tidak ada lagi asa akan satu penghasilan yang membaik.

Nampaknya jargon “jangankan yang halal..yang haram aja susah” sudah menjadi analogi yang tak terbantahkan. Harapan akan hidup yang membaik di negeri ini seakan semakin pupus.

Sebagian penduduk negeri ini sekrang juga tengah galau berpikir bagaimana mengamankan asset mereka yang secara susah payah mereka peroleh dengan keringat orang lain. Sebagian penduduk negeri ini tengah gundah rasa, mengingat harta mereka yang tak kunjung habis, sementara umur tak bisa mereka beli.

Sebagian penduduk negeri ini sedang menatap dengan nanar dari balik jendela kerkusen jati di perumahan kawasan elite. Mereka menatap kerumunan orang-orang yang sedang mengantri berhari-hari untuk sekadar 1 jerigen minyak tanah saja.

Dalam hati si kaya hanya mampu mengumpat “salahmu sendiri kenapa tidak mau kerja keras”..”salahmu sendiri kenapa tidak bangkit dari kemiskinan…??”

Lagi-lagi bangkit yang dipersalahkan…lagi-lagi bangkit menjadi kambing hitam akan keterpurukan sosial majemuk.

Para Elite Negeri ini dengan lantang berteriak soal bangkit. Mereka berusaha meniupkan bangkit, seakan bangkit itu satu energi kekuatan untuk keluar dari persoalan yang mendera.

Kebangkitan Nasional seakan menjadi momentum bangunnya masyarakat kita dari tidur panjang. Seolah-olah bencana yang bertubi-tubi melanda itu hanyalah mimpi belaka. Seakan-akan kenaikan BBM dan persoalan negeri ini hanya rekaan belaka.

Siapa yang harus bangkit terlebih dahulu? Masyarakat bawah yang sudah lama terinjak dan terpuruk? Atau para penguasa negeri yang sudah “bangkit” karena kekuasaan dan harta yang ia miliki?.

Kalau adonan kue bangkit butuh satu malam untuk mengembang dan baru bisa dipanggang dan kemudian dinikmati sebagai penganan ringan. Terus apakah cukup satu malam juga untuk mem”bangkit”kan negeri ini?

Atau butuh bermalam-malam atau malah berpuluh-puluh tahun lagi, baru bisa bangkit?

Esok hari sesama kita sang kaum papa tetap akan bangkit dari tidur lelap dan mimpi indahnya. Mereka akan bangkit mengais sesuap nasi di atas tanah negeri ini. Esok pagi sang kaum papa tetap akan menebar harap diatas gundukan sampah yang semakin menggunung di negeri ini. Mereka akan tetap bangkit menaruh asa di antara gedung-gedung pencakar langit.

Mereka akan selalu bangkit akan harap yang mujarab. Harap akan doa yang insyaallah terkabul. Mereka sudah bangkit dan berusaha bangkit setiap hari dan putaran waktu. Kebangkitan mereka tak terkekang oleh rentang 100 tahunan.

Hanya saja mereka punya harap..akankah bangkitnya mereka ini bisa mengantar mereka ke hidup yang semakin baik?

Mereka tidak paham akan urusan bangkit..membangkit yang belakangan marak dikumandangkan. Mereka hanya ingin bangkit untuk mampu meraih sepiring nasi dan lauk yang layak seperti dulu lagi.

Semua berpulang ke nurani kita, bahwa kebangkitan nasional ini semoga tidak hanya menjadi eforia semata. Semoga saja para pelaku negeri ini benar-benar mampu memaknai kebangkitan ini sebagai satu hembusan nafas yang optimis akan satu perubahan yang positif. Semoga dimulai dari kebangkitan para individu di negeri ini yang tergerak untuk berlaku jujur terhadap bumi pertiwi ini.

Bangkitlah untuk jujur terhadap diri sendiri….

Moh. Leo Lumanto – Spiritualis

Dari awal dunia ini diciptakan, sosok seorang Pria selalu saja menjadi dominan. Dimulai dari cerita Hawa yang menggoda anak adam dengan apelnya, sampai cerita bahwa seorang wanita pun diciptakan dari tulang rusuk Pria…Belum lagi lagu “…wanita dijajah Pria sejak dulu…”.

Gileee beneerrrr….Pria sudah menjelma menjadi sosok yang karismatik dan sangat perkasa. Tidak ada satu pun pekerjaan di atas muka bumi ini yang tidak dapat dikerjakan olehnya. Cuma hamil dan melahirkan saja yang belum…

Nah…saat kita berbicara tentang kehamilan dan melahirkan, kita berbicara tentang awal kehidupan yang hakiki…kehidupan yang ter evolusi setiap waktu. Disitu awal dari embrio manusia baru yang bisa saja berkelamin Pria atau pun Wanita.

Dan semua hal itu HANYA bisa dilakukan oleh seorang wanita saja.

Súdalah…by the way..busway…kita tidak sedang membahas masalah kehamilan kok. Gua cuman ingin ngomong soal sosok Pria yang dibalik keperkasaannya dan sifat dominannya itu, ternyata menyimpan segudang wish list yang bersifat kekanak-kanakan.

Dari pengen punya koleksi figures heroes atau pun masih tertarik main playstation dan hal-hal lain yang pantasnya dilakukan oleh seorang anak kecil.

“A Boy that traps in a man’s Body. Gua sering banget denger istilah itu. Dan pernah suatu ketika nyokap gue pesen ke bini gue yang intinya mengatakan bahwa laki-laki itu semuanya seperti anak kecil.

Saat mendengar omongan nyokap itu, gua belagak sedikit introspeksi diri, apakah gua seperti yang diomongin nyokap..?????

Ngga butuh waktu lama buat gua untuk me”nemu”kan sisi kekanak-kanakan gua…heemmm…bener juga neh kayaknya.

Sebenarnya hal-hal itu wajar-wajar saja gua rasa, saat seorang Pria dewasa masih memiliki dan menyimpan A Childish Side dalam dirinya. Bukankah katanya Pria lebih mengedepankan rasio dibanding wanita yang selalu memakai perasaannya.

Mungkin saja dengan rasio inilah para Pria dewasa ini merasa bahwa saat dia masih bisa dan mampu untuk kembali mengulang masa-masa kanak-kanak yang Indah, maka dia akan melakukan hal itu.

Sesungguhnya jujur saja….merupakan hal yang sangat menarik saat gua bisa melihat patung figure heroes yang sewaktu kecil sangat gua kagumi.

Apalagi belakangan ini banyak film-film layar lebar yang temanya kembali ke kenangan masa kecil. Entah itu Superman, Batman dan teman-temannya.

Mungkin saja hal-hal tadi terjadi karena sosok Pria atau Laki-laki sesuai dengan kodratnya, selalu di anggap A Leader. Kepala rumah tangga harus seorang Pria. Para Bos dan atasan di kantor…kebanyakan juga Pria. Pekerjaan kasar dan berat..selalu kebanyakan dikerjakan oleh Pria. Mencari nafkah utnuk keluarga..sudah kewajiban Pria.

Belum lagi dalam berberapa kultur budaya pun, Memiliki anak Pria sering kali menjadi Human Asset yang lebih bernilai.

Dari semua paparan ini, rupanya sosok Pria secara sadar atau tidak sudah memiliki satu privacy dan moral obligation akan tanggung jawab kehidupan.

Bukan tidak mungkin tidak semua mampu menjalani hal itu dengan baik. Berangkat dari pemikiran bahwa tidak ada satu pun manusia yang dianugerahi kesempurnaan tentunya gua dan anda semua juga bukanlah orang yang sempurna dalam menjalani proses kehidupan ini.

Hanya saja kita para Pria terkadang sulit sekali mengkekang ego yang memang sudah terpupuk sejak dini. Sehingga kerap kali Kita selalu ingin menang dan di”menang”kan dalam semua aspek kehidupan.

Lelah juga ternyata menjadi seorang Pria, dengan segala tanggung jawab dan semua kebuntuan akan masalah yang selalu ditimpakan ke para Pria. Dari soal Pria berselingkuh..sudah jelaslah Prianya yang salah, tanpa orang tidak pernah tahu bahwa tak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Atau saat tidak mampu mencukupi nafkah lahir keluarga, tentulah Pria yang akan dipersalahkan karena kurang keras mebanting tulang nya untuk keluarga.

Apakah karena semua hal itu, kemudian dalam diri setiap Pria menyimpan rasa dan memori masa kecilnya atau hal-hal yang mengingatkan dia hanya akan kesenangan semata. Bisa saja hal itu mewujud dalam bentuk having fun with his social community dengan jalan clubbing dan menjadi anggota P3L..Party ampe Pulang Pagi lagi.

Atau mencari sesuatu kenangan yang membahagiakan lewat memorilibia atau hal-hal yang pernah dilakukan semasa kecil. Semisal mengkoleksi benda-benda yang dulu pernah menjadi impiannya semasa kecil, dll.

Hal-hal ini tadi rupanya sudah menjadi bagian dari pelampiasan akan beban moral yang sudah keburu harus disandang karena menjadi Pria. Bukankah sejak kesetaraan gender di kumandangkan dimana-mana, tetap saja mencari nafkah mutlak merupakan kerjaan Para Pria??. Bukankah tetap saja Para Pria akan berusaha menguasai semua pekerjaan wanita, sampai-sampai niat transexual pun kerap dilakukan kebanyakan oleh Pria.

Hanya sajaTetap saja…Ada satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Pria, yaitu melakukan proses awal dari satu kehidupan…Hamil dan Melahirkan…!!!

Secara spiritual gua melihat justru disinilah kunci dari senses of morality. Dimana secara moral seorang Pria tidak akan pernah sukses menjadi “ibu” buat anak-anaknya. Mengapa peran single parents lebih gape dimainkan oleh seorang wanita??

Seorang Pria tidak pernah sempurna menjadi sosok pemerhati, Pria lebih cenderung menjadi sosok yang butuh di perhati kan.

Ternyata dibalik sosok yang semula dikira dominan dan karismatik itu, tetap ada satu nature needed yang hakiki, yaitu kebutuhan akan perasaan terlindungi. Dimana lewat perilaku itulah seorang Pria akan mencoba menumpahkan semua kekurangan dan kelelahan moral yang dia rasakan sebagai seorang Pria dewasa.

Boys is still a Boy….ungkapan yang mengena saat seorang Pria seakan kehilangan jati dirinya dan saat itu dia merasa bahwa masa kecilnyalah masa yang tidak pernah membuatnya terluka.

Anda mungkin pernah nonton film THE KIDS yang diperankan oleh Bruce Willis. Gua berberapa kali sudah nonton film itu. Ada Satu hal yang membuat gua kena banget..Tokoh yang diperankan oleh Bruce ternyata tidak mampu meraih semua impian kecilnya, sehingga muncul seorang anak kecil yang belakangan ternyata adalah Imagining Friend dari Bruce, yang memngingatkan dia akan impian masa kecilnya.

Betapa banyak dari kita kaum Pria yang sudah jauh melenceng dari mimpi kecil kita dulu.

Sehingga ketika ada satu kesempatan dan waktu untuk sedikit bernostalgia dengan impian itu, tentu tidak akan terlewatkan begitu saja. Jadilah kemudian sosok permainan dan barang-barang yang mengingatkan kita akan impian masa kecil itu menjadi sesuatu yang membahagiakan.

Paling tidak hal itu bisa sedikit meredam kekesalan akan persoalan hidup yang tak kunjung usai. Paling tidak hal-hal itu jauh lebih baik daripada mimpi kecil menjadi pengisap shabu-shabu misalnya….

Wajar sajalah kalau seketika seseorang merasa lelah akan rutinitasnya..merasa jemu dengan aktifitasnya atau malah merasa bosan dengan kehidupannya. Bukankah apapun yang ada disekeliling kita tidak ada yang abadi?.

Wajar juga bilamana ditengah kejemuan itu seseorang Pria dewasa ingin sesaat kembali ke impian masa kecilnya. Paling tidak untuk sesaat itu dia bisa berdamai dengan waktu tang biasanya menghantuinya lewat sosok Jin yang disebut dead line kerjaan kantor, dll.

Yah itung-itung punyalah sarana untuk sekadar mengusir rasa stress dengan memandangi koleksi mobil-mobil miniature yang terpajang rapi di lemari kaca. Daripada mengkoleksi nomer handphone wanita-wanita yang mungkin saja Binor.

Pria dewasa tetaplah Pria yang harus mau menerima beban tanggung jawab hidup yang seakan sudah di takdir kan untuk dia angkat. Hanya saja Pria dewasa ini masih butuh juga sarana untuk sejenak rehat dan lepas dari kepenatan hidup nya dan salah satu sarana pelepasan nya lewat sifat kekanak-kanakan yang masih bermukim di dalam dirinya.

Hanya saja hal-hal itu tentunya memerlukan satu pemahaman dari pasangan hidup kita. Bahwa hampir semua Pria masih suka berlaku seperti kanak-kanak..itu iya. Tapi tidak kemudian hal ini bisa menjadi satu pelarian dari satu persoalan hidup yang harus diselesaikan.

Berlakulah secara wajar dan adil dalam menerapkan keinginan masa kecil tadi. Biar bagaimana pun, Kita sudah terlahir dan menjelma sebagai seorang Pria dewasa yang di pundak kita sudah terletak satu beban dan tanggung jawab kehidupan yang tidak mungkin kita pungkiri.

Memang kita tidak mampu seorang Ibu, tapi paling tidak kita masih bisa menjadi seorang Imagining Mother seperti peran Robin William dalam film “Mrs Doubtfire”. Setidaknya kita bisa menjadi orang yang tidak hanya butuh di “perhati”kan saja, tapi mampu memper”hati”kan juga.

Walau bagaimana pun cerita ROMEO & JULIET tetap memerlukan peran seorang Pria.

Paling tidak Pria masih bisa melakukan satu hal lagi yang lebih indah dan cantik, yaitu mencintai dan setia. Sehingga sosok kanak-kanak yang ada pada diri seorang Pria akan menjadi seorang kanak-kanak yang innocent dan Jujur setidaknya untuk dirinya sendiri.

Finally…A musician must make a music..an artist must paint, a poet must write, If He is to be ultimately at peace with himself. What A man can be..He must be..

By Leo Lumanto – Spiritual Conselour / telah dimuat di majalah COSMOPOLITAN edisi 2008

Be El Te

Suatu ketika di satu sudut kafe di pojokan trotoar jalan, Nampak sedang duduk seorang eksekutif muda. Dari penampilannya ketahuan pastilah dia tipikal eksekutif yang berhasil. Laptop keluaran terbaru terpampang di hadapannya. Dengan cekatan jari-jari tangannya yang dibalut arloji mahal buatan swiss, memainkan mousenya.

Sangat serius dia dengan aktivitasnya itu. Seketika datang menghampiri sosok anak kecil laki-laki umur sekitar 8 tahunan. Dengan pakaian dekil en the kumel, sembari menenteng rantang besar terbuat dari aluminium. Hampir saja badannya yang kurus kecil itu tertutup oleh rantang yang besar dan nampak berat itu.

’ Om, kuenya om….’ : kata anak itu menawarkan kuenya. Sembari tangannya mengulurkan tangan yang mengenggam sepotong kue berwarna putih dengan aksen coklat di tengahnya.

Sang eksekutif yang merasa terusik ketenanganya hanya melambaikan tangan dan mengatakan ’tidak…’ tanpa menoleh sedikit pun ke arah anak itu.

Anak itu tak bergeming dan kemudian ’ Om..kuenya om, masih anget nih…’ :sahutnya.

Nampaknya lambaian tangan tadi itu tak bermakna sebagai satu pertanda penolakan untuknya. Malah itu di anggap sebagai satu awal bahwa kehadirannya di respon dengan baik.

Kembali Sang eksekutif kita melambaikan tangannya ke kiri kanan secara cepat dan kali ini meluncur serentetan kata..’tidak..tidak..tidak..nanti..nanti..sana..sana..pergi !!’.

Kali ini si anak patuh, dia pun menjauh dan berjalan ke pojokan jalan. Dia berteduh di bawah pohon rindang sembari menghapus peluh yang mengalir di dahinya dengan ujung kain bajunya. Mulutnya dengan sigap menawarkan kue ke setiap orang yang lewat.

Tak berberapa lama nampak Sang eksekutif bergegas akan meninggalkan mejanya. Dia kemudian melintas di depan si anak penjual kue. Kembali si anak bagaikan serigala menemukan mangsanya, langsung berdiri dan setengah mengejar Sang eksekutif muda tadi.

’ Om..om..kuenya om..: setengah berteriak ia menawarkan dagangannya, ditingkahi hiruk pikuk orang yang melintas di sore itu.

Sang eksekutif yang sedang asyik memencet-mencet tuts handphonenya, menoleh dan kali ini dia berhenti dan tersenyum simpul sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Kali ini gelengan itu tidak berupa penolakan lagi, tapi lebih kepada kekagumannya akan gigihnya si anak menawarkan kue itu. Hal ini yang membuat sang eksekutif langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan berberapa lembar uang.

Melihat itu dengan sigap si anak membuka rantang kuenya dan bertanya : ’ Mau berapa..Om..?’.

’ enggak ….enggak..saya ngga beli.’ : kata Sang eksekutif. ’ ini..kamu ambil aja untuk kamu’ : lanjut Sang eksekutif sembari tangannya mengulurkan uang sepuluh ribuan tiga lembar.

Alih-alih mengulurkan tangan untuk mengambil, malah anak itu tertegun menatap uang itu. Dan sesaat dari bibir mungilnya meluncur kata :’ tidak om…makasih’. Sang eksekutif terperanjat mendengar kata itu. Dalam hidupnya hanya berberapa kali dia mendengar kata itu sebagai penolakan atas tawaran dan pemberiannya. Di posisi jabatannya di kantor, begitu jarang dia mendapat penolakan seperti itu. Semua akan setuju dan menyambut baik apa pun yang dia bicarakan.

Dengan rasa ingin tahu sang eksekutif melanjutkan kalimatnya : ’ ngga apa-apa kok..ambil aja..ini untuk kamu’. Lagi-lagi si anak mengelengkan kepalanya. Dia kembali mengatakan :’tidak om..’ kali ini lebih tegas.

’ kenapa ngga mau..ada apa..kamu ngga mau duit?’ : sahut sang eksekutif.

’ bukan om..bukan ngga mau. Kata ibu saya kita ngga boleh minta-minta..kalo mau uang

Kita musti kerja dulu..’ : jawab si anak dengan lugunya.

Kali ini jawaban si anak membuat sang eksekutif tertegun. Jawaban singkat yang seketika membuat debar jantungnya seakan berhenti sepersekian detik. Kenaaa deeeehhh gueee….itu pikirnya. Seakan-akan si anak bisa membaca bahwa di keseharian sang eksekutif betapa seringnya dia mendapatkan uang tanpa harus bekerja. Kedudukannya sebagai salah satu penentu di salah satu perusahaan swasta terbesar di negeri ini, menjadikan ia begitu diminati banyak orang. Orang yang selalu rela antri untuk bertemu dengannya. Dan rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengantarkan secarik kertas tanda bukti transfer ke rekeningnya.

Jawaban si anak terasa sangat ironis di tengah negeri ini sedang berjuan untuk memulihkan rasa harga diri. Seakan – akan para penguasa negeri sangat peka dan perasa akan penderitaan rakyatnya. Sehingga dicanangkanlah program Be El Te…Bantuan langsung Pakai. Ironisnya lagi saat pendapatan keluarga miskin itu ditambah dengan sejumlah fulus, disisi lain BBM dinaikan kembali. Walhasil tak hanya BBM yang naik, konco-konconya BBM pun ikut-ikutan naik juga. Terus apa bedanya saat pendapatan keluarga miskin tadi ditambah, kemudian ternyata barang-barang kebutuhan mereka pun harganya ikut tambah??

Apakah memang Be El Te merupakan solusi moncer untuk mengkikis kemiskinan di negeri ini? Ataukah ini malah hanya akan melahirkan pengemis-pengemis baru yang lupa bahwa tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah…?

Lalu akankah generasi ke depan kita akan bermental tahu diri dan jujur seperti si anak penjual kue? Atau malah bersikap persis sang eksekutif yang sempat merasa sangat bangga dengan keberhasilannya?

Alangkah indahnya andaikan benih keberhasilan sang eksekutif kemudian dipupuk dengan mental tahu dirinya si anak penjual kue.

Alangkah indahnya andaikan solusi kemiskinan itu dimulai dari memupuk mental untuk mau bekerja keras serta jujur dalam menyikapi hidup. Niscaya Tuhan pun pastilah berkenan untuk membuka jalan. Bukankah rejeki itu ada ditanganNYA??. Andaikan semua telah berjalan dan semua orang yang mengisi negeri ini mau jujur terhadap apapun perannya di dunia ini dan percaya akan nikmatNYA, mungkin Be El te tidak kita perlukan lagi dan Be El Te tidak perlu menjadi jargon olok-olok menjadi Bantuan langsung Terbuang

Terimakasih…

Kata yang begitu lekat dikeseharian kita.  Kata yang sedari kita balita sudah mulai diajarkan. Kata yang dulu sangat populer untuk diucapkan mewakili ungkapan akan rasa yang tak ternilai.

Hanya saja sekarang kata “terimakasih” sudah semakin kehilangan makna sesungguhnya. Saya berberapa hari lalu juga mendapatkan ucapan terimakasih dari seorang penjual majalah di emperan. Sementara seorang teman baru saja mendapat ucapan terimakasih dari seorang Polantas karena telah memberinya ‘uang rokok’.

atau dulu tahun 2006 saya pernah pergi hunting foto dengan Mas Darwis Triadi ke jawa tengah. Di perjalanan kami berhenti motret di candi ratu boko. Seorang ibu-ibu tua yang sedang memanggul kendi air menjadi sasaran bidikan kami berdua.  Setelah selesai ‘melahap’ sang Ibu dengan kamera. Kami memutuskan untuk memberinya sedikit uang saja. Kami dekati sang ibu dan mengangsurkan dua lembar uang 50.000 an. Sang Ibu tertegun dan mengatakan ‘ini untuk apa?’ kami menjawab ‘uang ini untuk ibu kok, ambil saja’. Sang Ibu tertegun dan kembali menatap ke arah tangan dimana uang itu berada. Dengan perlahan tangan keriputnya beringsut mengambil satu lembar uang 50.000an tadi….yah..hanya satu lembar saja dari 2 lembar yang ada…

Dengan lirih sang ibu berkata ‘ maturnuwun….keakehan(kebanyakan-bhs jawa)….Ucapan maturnuwun nya sang Ibu sangat menyengat di telinga saya. Luar biasa masih ada kalimat yang sudah sangat jarang saya jumpai di kota-kota besar, kalimat yang jarang sekali diucapkan dengan tulus. Kalimat yang sekarang lebih berkonotasi basa basi semata. Sang Ibu telah ‘menampar’ saya dengan ucapan nya.  Terimakasih….terimakasih untuk Sang Ibu yang tak bernama…

Nurani

Kejadian belakangan ini membuat saya mempertanyakan “arti dari sebuah NURANI”.

Saat kita melihat betapa macet dan tidak teraturnya lalu lintas di kota jakarta. dan kalau kita jeli ternyata semua itu

bermula dari sikap saling serobot dan tidak mau mengalah. belum lagi perilaku dari pengguna alat transportasi

massal yang juga menyetop kendaraan dgn seenaknya.

Semua berujung pada satu tujuan agar sempat sampai dan cepat menyelesaikan pekerjaannya.

Belum lagi perilaku berberapa pengemis di lampu merah, yang akan marah  bila tidak diberi. seakan-akan sdh

merupakan kewajiban kita ”yang bermobil”ini utk memberikan sedekah, mungkin kita dianggap berpunya??.

Saya hanya merenung apakah saya sdh tidak punya nurani lagi saat saya ngotot tidak mau memberi jalan kpd

orang yang dgn seenaknya menyerobot jalan. Apakah nurani saya sudah beku, sehingga tdk lagi memberi sedekah

kepada pengemis yang jelas-jelas masig sangat-sangat sehat dan waras??.

Atau sebaliknya, saat saya memberikan apa yg mereka tuntut,apakah berarti saya manusia yang ber”nurani”??

sehingga saya harus memaklumi bahwa saat ada yang menyerobot jalan itu adalah orang yang punya kepentingan

yang jauh lebih ”PENTING” dari ke”PENTING”an saya dan ribuan orang lainnya???

Saya harus memaklumi bahwa sedekah itu tidak hanya milik orang yang lemah dan uzur saja?

Saya harus maklum bahwa di tengah kesulitan mencari lapangan pekerjaan, sah-sah saja bila orang harus

mengetuk belas kasihan dari orang lain.

Nampaknya saya yang sudah tergerus oleh jaman, sehingga tidak lagi tahu kalau tangan diatas(atau dimana saja…)lebih mulia(atau malahan

tidak tahu diri…) daripada tangan dibawah…????

Saya sudah kehilangan parameter Nurani …saya kehilangan guidelines ttg nurani….

Pertapa & Seekor Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”

“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya. ” Lihat Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong mahluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?”

Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan.”

Kesimpulan :

Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orang tua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.

Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkimpoian kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka.

Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.

Dew berkata , “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitusukses, akan menjadi
sangat menarik bagi para gadis.”

Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor”

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada
saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun
kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia
pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang
baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau
aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah
hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa
yang akan kau lakukan? “

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku
tidak bisa mbayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu
bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku,” He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.”

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,”Ada sesuatu yang harus kukatakan”

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo
aku terus berpikir.

“Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara
lembut,”kenapa?”

“Aku serius.”

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia
melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki-laki!”.

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu
kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkimpoian kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa
pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian
dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia
memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..

Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku
sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa
mengembalikan apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan
untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan
sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat
ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku
terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?”

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.

Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya,
“Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku
pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi
kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.”

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan
indah yang telah berlalu dan berharap perkimpoiannya diakhiri dengan suasana
romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh.

Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami
menepuk punggung kami,”Wah, papa membopong mama, mesra sekali”

Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk,
lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita.”

Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia
pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami
begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku
menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “Kebun diluar sedang dibongkar,
hati-hati kalau kamu lewat sana.”

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih
mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku
dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk.

Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor
bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,”Kelihatannya tidaklah
sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya
keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.

Lalu ia melihat,”Semua pakaianku kebesaran”.

Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku
semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.

Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.

“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar”

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian
yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan
merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku
akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku,
berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya
memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak
pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah
dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”.

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari
bahwa kehidupan kita begitu mesra”.

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.

Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin
bercerai. Aku serius”.

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.

“Kamu tidak demam”.

Kutepiskan tanganya dari dahiku “Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf
padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan
disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku
dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap waktu

Menuai Cinta

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu – begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. “Hutang mereka sudah jatuh tempo,” kata sang tuan. “Baik, Tuan,” sahut si bodoh. “Tetapi nanti uangnya mau diapakan?” “Belikan sesuatu yang aku belum punyai,” jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.

Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.” “Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?” Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. “Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,” katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benar-benar bodoh,” omelnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

“Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan. “Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh. “Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.”

Hati yg Indah

Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata “Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?”.

Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ?

Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa “Anda pasti bercanda, pak tua”, katanya, “bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan”.

“Ya”, kata pak tua itu,” hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan – - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?”

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, lalu merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.

06-10-2006, 01:57 AM

Aku Menunggu MU…

Pada minggu ini Conrad, pembuat sepatu, bangun sangat awal, membersihkan tokonya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku dan menyiapkan meja. Dia tidak akan bekerja. Dia sedang menanti teman, seorang tamu khusus : Tuhan sendiri. Kemarin malam Tuhan datang padanya dalam suatu mimpi dan memberitahukan bahwa Dia akan datang bertamu besok.

Jadi Conrad duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu, hatinya penuh dengan kegembiraan. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu “Itu DIA,” pikir Conrad, sambil lari ke arah pintu dan membukanya.

Ternyata itu hanyalah tukang pengantar surat. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kedinginan. Dia menatap sambil menelan ludah ke arah cerek teh di tungku. Conrad mempersilahkan dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku. Kata pengantar surat itu, “Terima kasih, teh ini enak sekali.” Kemudian dia menghilang di tengah hawa dingin di luar.

Ketika pengantar surat itu pergi, Conrad membersihkan meja lagi. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menanti kedatangan tamunya. Dia merasa yakin bahwa tamu itu akan datang.

Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki kecil yang sedang menangis. Conrad memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian, Conrad menulis pada secarik kertas dan meletakkannya di atas meja. Tulisan itu berbunyi, “Tunggulah saya. Saya akan kembali segera.” Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit dan menggandeng anak kecil itu serta membawanya pulang.

Ternyata perjalanan itu lebih lama dari perkiraannya, bahkan hari sudah mulai agak gelap ketika dia kembali ke rumah. Dia terkejut mendapati seseorang ada di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. tapi lalu hatinya berdebar. Orang itu pastilah Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang.

Namun Conrad mengenali bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas dari flatnya. Perempuan itu tampak sedih dan lelah. Dia memberi tahu bahwa dia tak bisa tidur sama sekali sebab anak laki-lakinya Peter sedang sakit parah. Dia tidak tahu mau berbuat apa. Anak itu diam terbaring di sana, demamnya tinggi, dan dia tidak bisa lagi mengenali ibunya.

Conrad merasa ikut sedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya di sana sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti Peter dengan kain basah. Conrad duduk di tepi tempat tidur anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak.

Ketika dia kembali ke ruangannya, hari sudah larut malam. Conrad sangat lelah dan sungguh kecewa ketika membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang.

Tiba-tiba dia mendengar suara. Ternyata suara Tuhan yang berkata, “Terima kasih, karena menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih karena menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Conrad, saya berterima kasih karena hari ini saya bisa menjadi tamumu.”

Older Posts »